Rasanya Baik-Baik Saja, Sampai Kamu Menengok ke Belakang
Kebanyakan orang merasa sudah cukup paham bagaimana perasaan mereka. Kamu bangun tidur, menjalani hari, lalu punya kesan umum apakah harimu baik atau buruk. Tapi satu bulan mencatat mengajariku satu hal: ingatan adalah pelacak suasana hati yang buruk.
Waktu mulai mencatat suasana hatiku setiap hari selama 30 hari, aku mengira hasilnya hanya akan membenarkan apa yang sudah kuketahui tentang diriku. Ternyata aku menemukan pola-pola yang sama sekali tidak kusadari. Bukan penemuan yang dramatis, hanya sinyal-sinyal kecil yang berulang dan bersembunyi di depan mata.
Berikut lima pola suasana hati yang cenderung tak terlihat sampai kamu benar-benar menuliskannya.
1. Murung di Minggu Sore
Mungkin kamu tidak akan menyebutnya kecemasan. Rasanya lebih seperti dengung kegelisahan yang pelan-pelan muncul sekitar pukul 4 atau 5 sore di hari Minggu. Bukan benar-benar cemas, bukan juga benar-benar sedih. Hanya ada pergeseran.
Waktu membaca ulang catatan selama sebulan, hari Minggu selalu menjadi hari dengan nilai terendah. Selisihnya memang tidak besar, tapi cukup untuk membentuk pola yang jelas. Yang menarik, aku tidak pernah menganggap diriku orang yang kena "sindrom Minggu malam".
Apa yang bisa dilakukan: Begitu kamu melihatnya, kamu bisa merencanakan sesuatu. Mungkin hari Minggu jadi waktu untuk jalan kaki lebih jauh, menelepon teman, atau memasangkan latihan pernapasan singkat dengan rutinitas malammu. Polanya sendiri bukan masalah. Yang jadi masalah adalah tidak tahu bahwa pola itu ada.2. Lesu Setelah Bersosialisasi
Yang ini membuatku kaget. Aku sungguh menikmati waktu bersama orang lain. Tapi jurnalku menunjukkan penurunan suasana hati yang konsisten di hari setelah acara sosial yang besar. Bukan saat acaranya. Sesudahnya.
Ini bukan kelelahan ekstrem. Lebih mirip dekompresi emosional. Otakku butuh waktu pemulihan, dan ketika tidak kuberi ruang itu, aku jadi mudah kesal atau merasa hambar tanpa tahu sebabnya.
Apa yang bisa dilakukan: Sisakan pagi yang lebih tenang setelah acara sosial. Sebisa mungkin jangan menumpuk dua acara besar berturut-turut. Pola ini terutama umum pada orang yang berada di tengah-tengah spektrum introvert-ekstrovert, dan hampir mustahil terdeteksi tanpa catatan tertulis.3. Dataran Energi di Tengah Pekan
Hari Rabu terus muncul sebagai hari yang "biasa saja" dalam catatanku. Bukan hari yang buruk. Hanya datar. Energi rendah, motivasi rendah, rasanya seperti berjalan dengan autopilot.
Awalnya kukira itu kebetulan. Tapi setelah tiga minggu, polanya tak terbantahkan. Pertengahan pekan adalah saat semangat awal dari hari Senin sudah memudar, sementara daya tarik akhir pekan belum terasa.
Apa yang bisa dilakukan: Ini hari yang pas untuk menjadwalkan sesuatu yang kecil tapi memberi energi. Tempat makan siang favorit, playlist yang khusus kamu simpan untuk hari Rabu, atau sekadar cek suasana hati lima menit untuk menyegarkan diri. Kadang, cukup mengakui "ini hari datarku" sudah membuatnya terasa lebih ringan.4. Jeda antara Tidur dan Suasana Hati
Yang satu ini tidak terlihat dalam catatan satu hari. Ia baru tampak lewat beberapa hari. Ketika tidurku buruk, suasana hatiku tidak selalu turun keesokan harinya. Turunnya baru dua hari kemudian.
Jeda itu membuatku nyaris mustahil menghubungkan kejadiannya secara langsung. Hari Kamis aku merasa tidak enak badan dan menyalahkan stres kerja, padahal pemicu sebenarnya adalah tidur yang berantakan pada Selasa malam. Tanpa catatan tertulis yang mengaitkan keduanya, aku tidak akan pernah menyadarinya.
Apa yang bisa dilakukan: Saat mencatat suasana hati, pertimbangkan untuk menulis kualitas tidur di sampingnya. Cukup "tidur nyenyak" atau "tidur buruk" saja sudah cukup. Seiring waktu, kamu akan mulai melihat pola jedamu sendiri. Bagi sebagian orang jedanya satu hari. Bagi yang lain, seperti aku, dua hari. Mengetahui jeda pribadimu akan mengubah cara kamu menyikapi malam yang buruk.Pola yang paling penting sering kali justru yang tidak bisa kamu lihat saat itu juga. Pola itu baru tampak setelah berminggu-minggu, bukan berjam-jam.
5. Pola "Semuanya Saling Terkait"
Setelah beberapa minggu menulis jurnal, muncul sesuatu yang lebih besar. Suasana hatiku ternyata tidak ditentukan oleh satu hal saja. Ia adalah jaring dari berbagai faktor kecil, dan tak satu pun terlihat jelas bila berdiri sendiri.
Melewatkan olahraga tidak merusak hariku. Tapi melewatkan olahraga dan makan sembarangan dan main ponsel sebelum tidur menciptakan penurunan yang terasa dua hari kemudian. Kombinasinyalah yang berpengaruh, dan aku baru menyadarinya karena datanya tertulis.
Di sinilah pencatatan suasana hati mulai terasa bukan seperti kewajiban, melainkan alat untuk memahami diri sendiri. Kamu tidak sedang mendiagnosis apa pun. Kamu hanya sedang mempelajari buku panduan cara kerjamu sendiri.
Apa yang bisa dilakukan: Kamu tidak perlu mencatat segalanya. Mulailah dengan suasana hati, satu atau dua catatan tentang harimu, dan mungkin penanda tidur atau olahraga. Itu sudah cukup untuk menyingkap keterkaitannya. Aplikasi seperti sMoment membuatnya mudah karena semuanya tersimpan di perangkatmu dan tidak perlu membuat akun, sehingga hambatan untuk melakukan cek harian nyaris nol.Mengapa Menulis Lebih Baik daripada Mengingat
Otakmu memang terbiasa menghaluskan segalanya. Ia merata-ratakan hari-hari buruk, membesar-besarkan hari-hari baik, dan diam-diam membuang detail yang tidak cocok dengan cerita yang sudah kamu yakini.
Menulis mengganggu kebiasaan itu. Satu kalimat per hari pun memberimu sesuatu yang konkret untuk dilihat kembali. Dan ketika kamu menengok ke belakang selama dua minggu, tiga minggu, atau sebulan penuh, kamu akan menemukan pola-pola yang tak sanggup dipegang oleh ingatanmu.
Kamu tidak butuh sistem yang rumit. Kamu tidak perlu menulis berparagraf-paragraf. Cukup beberapa kata, satu penilaian, dan mungkin catatan tentang apa yang paling menonjol. Itulah seluruh latihannya.
Kalau kamu penasaran seperti apa satu bulan penuh mencatat suasana hati, aku sudah menulis tentang pengalamanku sendiri dan apa yang sebenarnya diungkap oleh datanya. Hasilnya lebih menarik daripada yang kamu duga.
Mulai dari Mana Pun Kamu Berada
Kamu tidak perlu menunggu hari Senin. Kamu tidak perlu templat yang sempurna. Kamu bahkan tidak perlu merasa termotivasi. Tulis saja bagaimana perasaanmu hari ini, lalu lakukan hal yang sama besok.
Pola-pola itu akan menemukanmu. Dan begitu kamu melihatnya, kamu tak bisa lagi tidak melihatnya. Itulah nilai sejati dari jurnal pola suasana hati. Bukan untuk memperbaiki apa pun, hanya untuk akhirnya menyadari apa yang selama ini sudah ada.
Perlu diingat juga bahwa data pribadimu pantas tetap menjadi milik pribadimu. Kebiasaan mencatat yang terbaik adalah yang membuatmu merasa aman untuk jujur, tanpa khawatir ke mana informasi itu akan berakhir.
Momenmu. Polamu. Wawasanmu.